One Of My Night Ride
Ada hal-hal dalam hidup yang tidak pernah benar-benar kita rencanakan, tapi akhirnya menjadi bagian yang melekat dalam diri kita. Salah satunya adalah persahabatanku dengannya.
Kenal sejak SMP. Masa-masa dimana kayaknya hidup masih enteng-enteng saja dan belum terlalu berisik. Bagiku, dia adalah orang yang cukup lawak dan ambisius. Kalau sudah menginginkan sesuatu, akan dikejar sampai dapat. Karena baginya hidup tidak akan berubah kalau cuma ditunggu. Walaupun sering juga terlalu cepat mengambil keputusan. She loves her family very much.
Aku merasa bisa match with her karena selera humornya sama. Bisa ketawa hanya karena melihat plastik kresek terbang, bayangan sendiri atau benda-benda yang bentukannya aneh. Mungkin kalau diceritakan ke orang lain hanya akan dibalas dengan tatapan bingung.
Dulu, ku pikir kami akan selalu punya waktu yang banyak. Berkeliling naik motor, haha hihi tidak jelas, saling mengejek, dan berargumen hal-hal yang sekarang rasanya konyol kalau diceritakan kembali.
Tapi memang benar, pada akhirnya setiap orang punya rutenya sendiri.
Dia seorang istri sekaligus seorang ibu. Dia punya rumah untuk diurus, suami untuk saling berbagi, anak-anak yang butuh perhatian mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Dunia yang sibuk tapi hangat. Sedangkan aku selalu sibuk dengan deadline yang terus berputar. Hari-hari yang dilewati rasanya panjang tapi berlalu begitu cepat.
Kami berdua sama-sama punya dunia sendiri. Sama-sama sibuk, sama-sama capek, dan mau tidak mau, sama-sama berubah.
Aku sering merasa ada jarak yang pelan-pelan tumbuh di antara kami. Jarak yang tipis, hampir tidak terlihat, tapi terasa. Jarak yang tidak pernah dibicarakan, tapi disadari.
Aku sering ingin mengirim pesan panjang padanya. How's your day? Or my day is so... Tapi selalu ada rasa takut akan mengganggunya, takut waktunya tidak pas.
Aku tahu dia pun punya cerita. Tentang anaknya yang rewel, rumahnya yang tidak pernah selesai dibersihkan, tentang capek yang kadang datang tanpa permisi. Tapi, mungkin dia pun menahan diri. Mengira aku sibuk, atau mengira ceritanya tidak lagi cocok dengan duniaku.
Dan saat saling menahan, saat itulah jarak mulai tumbuh.
Aku merindukan waktu itu. Merindukan haha hihi yang tidak sulit didapatkan, tidak perlu ditunggu, dan tidak perlu dibuat-buat.
Aku bangga padanya. Dia banyak berubah. Jauh dari sebelumnya, ia meninggalkan banyak hal yang mungkin sudah tidak seharusnya. Dan ku rasa, dia dan orang-orang yang menyayanginya pun bangga pada dirinya.
Aku juga bangga pada kami. Karena kami tidak saling meninggalkan meski ritme kehidupan berubah, dan bangga karena kami tetap menemukan satu sama lain, meski ada jeda.
Mungkin inilah cara persahabatan dewasa bekerja. Tidak selalu dekat, tidak selalu hadir. Tapi tetap tinggal, tetap ada, dan tetap jadi bagian dari diri kami.



<< Beranda